fbpx

Alasan berbagi tentang proses saya membangun bisnis

Daftar Isi

Dari masa pertengahan kuliah sampai sekarang sudah 2 tahun bekerja, saya rutin menerima tawaran menjadi pembicara dalam berbagai acara untuk kalangan generasi Y dan Z, terutama mereka yang sedang berkuliah.

Topiknya berbeda-beda, namun miliki satu benang merah yang sama: berbagi cerita dan cara mencapai kesuksesan kecil yang telah saya raih.

Orang senang mendengar (dalam hal ini, kamu membaca) cerita-cerita sukses, apalagi jika disertakan perbandingan yang ekstrim antara kondisi sebelum dan sesudah berhasil. Memicut semangat pendengar untuk segera menerapkan kiat-kiat yang dibagikan agar pula turut berhasil.

Sebaliknya bagi saya, yang lebih penting untuk dipahami adalah seperti apa momen-momen kegagalan yang dialami si pencerita dan bagaimana ia mengatasinya.

Mengapa demikian?

Mempersiapkan hadapi kondisi perang sesungguhnya

Tidak ada jalan pintas. Semua yang seakan melejit melesat dari titik ketinggian 0 ke 100 memerlukan bahan bakar: waktu, tenaga, dan uang; yang sepanjang perjalanan akan mempercepatmu lewat leverage: keterampilan, jaringan, dan kepercayaan.

Belajar dari kondisi-kondisi kegagalan, akan membuka mata kita pada titik-titik kritis dan pilihan yang menjadi pembeda yang diambil pencerita dalam mengelola bahan bakar di atas menjadi leverage lewat rangkaian kejadian yang pola umumnya: gagal—belajar—tingkatkan—gagal—belajar—tingkatkan.

Studi kasusnya bermacam-macam, mulai dari penolakan di menit akhir, ditinggal orang terdekat yang selalu mendukung, diremehkan lingkungan pertemanan, harus hidup frugal untuk cukupkan makan dan kebutuhan utama, remuk jatuh sakit dan mimpi yang tertunda, dan lain sebagainya.

Pembelajaran dari kondisi nyata seperti itu, punya nilai yang dapat kamu terapkan di kondisi yang berbeda—tentu dengan penyesuaian. Kamu juga lebih siap dan tidak mudah patah arang, bila kamu menghadapi rintangan pula dalam perjalananmu pribadi.

Terhindar dari survivor bias

Survivor bias adalah apa yang dirasa pencerita itu berpengaruh besar padanya dan harus pula diterapkan orang lain untuk mencapai titik keberhasilan yang sama. Padahal, dalam praktiknya ada banyak jalan menuju Roma, Cina, hingga Jakarta.

Dengan mengerti konteks si pencerita berproses, kamu akan memahami tolak ukur yang menjadi acuan dalam membuat keputusan. Sehingga tak serta merta harus ikuti jalur yang sama dalam ceritamu sendiri, sebaliknya tinggal berkaca pada kriteria apa yang menjadi tolak ukur agar bisa temukan leveragemu sendiri dan bahkan posisi garis akhir keberhasilan yang lebih baik dari si pencerita.

Lalu mengapa saya memutuskan berbagi rutin proses perjalanan kewirausahaan saya secara terbuka?

Jurnal terbuka — sebuah dokumentasi pembelajaran

Bagi saya ini adalah proses refleksi rutin sejauh mana saya sudah melangkah, dan hal-hal apa saja yang memungkinkan saya mampu tiba disini: suatu untuk disyukuri dan dipelajari untuk bersiap nanti diulangi.

Untuk disyukuri—pernyataan terimakasih dan kekaguman bagi mereka yang telah membuka jalan. Berdiri di atas bahu raksasa, saya membangun atas pencapaian pendahulu dan tentu, nasihat pembelajaran yang mereka sampaikan. Termasuk leverage-leverage yang saya bersyukur dapatkan sehingga memudahkan perjalanan.

Dipelajari untuk diulangi—kiat yang baik perlu terus-menerus dipraktikkan hingga menjadi kebiasaan dan cara hidup yang tetap. Sedangkan yang berakibat buruk, dimasukkan dalam buku “agar tidak terjatuh ke dalam lubang yang sama”.

Sudah pasti, saya harap semoga kamu juga turut belajar dari mampu membangun di atas bahu saya dan menjadi mampu melihat perspektif-perspektif berbeda tanpa perlu mengalaminya.

Saya sendiri, terinspirasi dari tulisan founder Gumroad dan inisiatif open startup dari berbagai organisasi top seperti Buffer, Nomad List, dan FOMO.

Akuntabilitas penilaian — bertanggung jawab terhadap tujuan semula dan sumberdaya yang telah didedikasikan.

Dengan kamu turut membaca, saya berarti bertanggung jawab kepada kamu dan dunia untuk berbagi hasil apa yang saya peroleh.

Di awal mula, agar saya tak cepat kandas, mudah terbuai dengan prototype indah, nama keren, atau konsep yang wah. Saya harus pastikan itu launching—tidak terjebak di pikiran saya saja.

Di ujung pengujuan, agar saya tahu apakah suatu proyek menunjukkan tanda-tanda keberhasilan, atau sebaliknya perlu dihentikan agar tak menguras bahan bakar saya yang masih terbatas.

Hanya perlu mencapai salah satu dari tanda keberhasilan berikut:

  • Keuntungan hingga Rp 6 juta dalam 30 hari pertama
  • Liputan pers / tawaran kerja sama / dikenalkan ke komunitas baru atau figur tertentu
  • 10,000 kunjungan atau anggota komunitas digital

Keuntungan di poin pertama kurang lebih cukup untuk standar hidup saya saat ini dan diputar untuk investasi ilmu serta bahan bakar proyek selanjutnya atau mengembangkan yang sekarang lebih besar lagi.

Publisitas di poin kedua adalah leverage jaringan yang diperlukan untuk pengembangannya, dan membuka pintu bagi kesempatan menjadi pembicara dan tawaran profesional lainnya.

Poin ketiga terkait audiens, penting untuk misi jangka panjang proyek-proyek lainnya yang akan berjalan di depan. Sehingga selalu ada first 1000 fans atau early adopter yang akan mempercepat siklus percobaan.

Dan tidak lupa, analisis saya terhadap apa yang membuatnya berhasil dan bagian yang tak sesuai harapan, hingga alasan yang melatarbelakangi proyek tersebut dimulai.

Kiranya, ini tidak terlalu muluk-muluk.

Jika berguna, sapa saya dan mari berkenalan di kolom komentar bawah ya!

Sampai jumpa di tulisan berikutnya!

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram